Sejarah Desa Suru tidak terlepas dari sejarah nenek moyang terdahulu, pada jaman dahulu masyarakat setempat kehidupan tiap hari tidak terlepas dari gotong royong bersama. dari kebaisanya itu pada saat makan belum ada sendok, dan ada seseorang yang setiap makan mencari dau pisang untuk dijadikan sendok atau masyaraat menyebutnya dengan nama Suru dan dari situlah awal masyarakat menyebut Suru, dan samapai sekarang menjadi nama Desa Suru.
Desa Suru sendiri pada awalnya memiliki lurah seumur hidup yang bernama Katam. lurah katam adalah lurah yang dermawan dan sangat dekat dengan masyarakatnya, adapun kepala desa yang pernah menjabat hingga sekarang adalah sebagai berikut : Katam (tahun 1917 s.d 1918), Sastro Pawiro (tahun 1918 s.d 1959), Moehadji Wiro Haldoko (tahun 1959 s.d 1976), Badrun (tahun 1976 s.d 1978), Bandu Pranoto (tahun 1978 s.d 1991), Sedianto (tahun 1991 s.d 1999), Suwadi (tahun 1999 s.d 2007), Joko Trisnanto (tahun 2007 s.d 2010), Pj. Ma. Multono (2010 s.d 2011), Suwadi (tahun 2011 s.d 2017), Bayu Aji Sururi (tahun 2017 s.d 2017) Wawan Yudha Purnawan ( tahun 2017 s.d Sekarang)
Secara Geografis Desa Suru terletak pada posisi 7º43'4" Lintang selatan dan 111º50'54" Bujur Timur. Topografi ketinggian desa ini adalah berupa daratan sedang yaitu sekitar 156 m di atas permukaan air laut. Berdasarkan data BPS kabupaten Nganjuk tahun 2016, selama tahun 2016 curah hujan di Desa Suru rata-rata mencapai 2.400 mm. Curah hujan terbanyak terjadi pada bulan Desember hingga mencapai 405,04 mm
Secara administratif, Desa Suru terletak di wilayah Kecamatan Ngetos Kabupaten Nganjuk dengan posisi dibatasi oleh wilayah desa-desa tetangga. Di sebelah Utara berbatasan dengan desa Mojoduwur. Di sebelah Barat berbatasan dengan Desa Ngetos. Di sisi Selatan berbatasan dengan Desa Blongko, sedangkan di sisi timur berbatasan dengan desa Macanan Kecamatan Loceret.
2. Sejarah Dusun Suru
Selain Dusun Watulanang dan Dusun Puhtulis di Desa Suru juga terdapat Dusun bernama Suru. Dusun Suru memiliki asal-usul atau sejarah yang juga menarik untuk ditelisik. Asal usul nama Suru bermula pada zaman dahulu dimana terdapat seorang putra dari Sunan Gresik yang berkelana sampai di suatu tempat. Putra Sunan Gresik tersebut sempat menetap di wilayah tersebut, hingga pada akhirnya beliau wafat atau orang Jawa biasa menyebutnya dengan istilah surut. Dengan adanya peristiwa tersebut dibuatlah Punden untuk memperingati peristiwa dan wafatnya putra dari Sunan Gresik. Karena dalam bahasa Jawa istilah surut yang berarti meninggal, maka para sesepuh menamai wilayah tersebut dengan sebutan DUSUN SURU.
3. Sejarah Watulanang
Dusun Watulanang merupakan sebuah dusun yang terletak di Desa Suru, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Desa Suru sendiri memiliki tiga Dusun yaitu, Suru, Puhtulis dan Watulanang. Letak Dusun Watulanang di sebelah Timur Desa Suru. Dusun Watulanang memiliki latar belakang sejarah yang cukup menarik.
Sejarah Dusun Watulanang telah ada pada saat zaman kerajaan. Pada zaman tersebut masih kental akan adanya kepercayaan terhadap hal-hal spiritual. Sehingga pada waktu itu orang-orang zaman dahulu (sesepuh) sering melakukan kegiatan yang didasarkan pada kepercayaan-kepercayaan tersebut. Kegiatan yang kerap ditemui biasanya berupa ritual yang dimaksudkan untuk tujuan tertentu.
Penamaan Dusun Watulanang masih erat kaitannya dengan adanya ritual yang dilakukan sesepuh setempat. Asal muasal sejarah bermula dari kebiasaan para sesepuh pada jaman dahulu yang melakukan suatu ritual. Ritual yang dimaksud adalah pembakaran menyan di dekat makam Mbah Cikal Bakal sebelum mengadakan acara pernikahan. Dalam prosesnya ritual tersebut dilakukan untuk meminjam sebuah ember yang terbuat dari batu atau biasa disebut DOLANG.
Dolang yang dimaksud digunakan sebagai wadah bedak calon pengantin yang dipercaya dapat menambah aura kecantikan dari calon pengantin. Pada saat melakukan ritual, suatu ketika muncul suara mistis yang mengatakan bahwa ia adalah watulanang “Yo aku iki lah Watulanang”. Sejak saat itulah Watulanang dijadikan sebagai nama Dusun oleh para sesepuh.
Dusun Watulanang semula wilayahnya tidak luas hanya sebagian kecil dengan batas sungai yang mengalir ke sawah. Ketika zaman Belanda dan terdapat sistem tuan tanah dan terdapat seseorang berasal dari Dusun Suru tidak mampu membayar sewa tanah tersebut kepada Belanda sehingga dibayar oleh orang dari Watulanang. Kemudian tanah yang dibayarkan uang sewanya oleh orang watulanang tersebut berubah kepemilikannya menjadi milik wilayah Dusun Watulanang, hal itu membuat wilayah Watulanang bertambah luas.
4. Sejarah Puhtulis
Dusun Puhtulis memiliki sejarah yang juga menarik untuk di ketahui. Sejarah ini dimulai pada waktu setelah zaman penjajahan. Pada waktu itu masih banyak hutan-hutan yang luas. Kemudian ada seseorang yang melakukan babat alas dan orang tersebut menemukan pohon Kepuh. Di pohon tersebut terdapat sebuah tulisan. Adanya tulisan atau fenomena itulah yang kemudian menjadi awal mula penamaan dusun dengan nama PUHTULIS.
Jarak tempuh Desa Suru ke ibu kota kecamatan adalah 3 km, yang dapat ditempuh dengan waktu sekitar 10 menit. Sedangkan jarak tempuh ke ibu kota kabupaten adalah 35 km, yang dapat ditempuh dengan waktu sekitar 1 jam.